Sabtu, 23 April 2011

ukhuwah fillah.

salam buat semua sahabat-sahabat...salam maaf atas tidak meng-update-kan blog buat sementara waktu..insyAllah kesilapan akan diperbaiki dari semasa ke semasa..:)

Sebelum sahabat membaca post kali ini..marilah kita renung-renungkan firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 13.

"Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan( dan beramah mesra antara satu sama lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu,( bukan yang lebih keturunan dan bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui , lagi Maha Mendalam PengetahuanNya ( akan keadaan amalan kamu )".


Rasulullah s.a.w memberi peringatan kpd umatnya supaya berhati-hati apabila memilih teman.
Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud,

'Seseorang itu menurut agama sahabatnya , oleh itu seseorang Muslim itu hendaklah berhati-hati dengan siapakah yang harus dia pilih sebagai sahabat'( Hadis riwayat Ahmad)'




Jelaslah di sini bahawa Allah amat menggalakkan hambaNya menjalinkan ukhuwah antara sahabat dan sebaik-baik ukhuwah yg dijalinkan hanyalah kerana Allah s.w.t. Sesungguhnya kelebihan ukhuwah kerana Allah adalah yang terlibat di dalamnya sentiasa mengingatkan masalah-masalah akhirat.



Antara hadis yg mengisahkan ukhuwah kerana Allah..Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

'Suatu hari, seseorang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal di satu kampung.Maka Allah mengutus seorg malaikat utk mencegat disuatu tempat di tengah-tengah perjalanannya. Ketika org tersebut sampai di tempat tersebut, Malaikat bertanya: "Hendak ke mana engkau?" Ia menjawab:"Aku hendak mengunjungi saudaraku yg berada di kampung ini." Malaikat kembali bertanya:" Apakah kamu punya kepentingan duniawi yang diharapkan darinya?". Ia menjawab:" Tidak, kecuali kerana aku mencintainya kerana Allah." Lantas malaikat itu berkata ( membuka identitinya): "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yg dikirim kepadamu utk menyampaikan bahawa Allah telah mencintaimu seperti engkau mencintai saudaramu".'



Persahabatan dgn teman yg soleh lagi bertakwa akan menjulang temannya itu ke mercu kemuliaan dan kesejahteraan , manakala persahabatan dgn teman yg jahat pula hanya membawanya ke lubuk kehinaan dan kecelakaan yg tiada penghujungnya.




Khamis, 24 Februari 2011

Salam Cuti

Salam. Sem kali ini dah nak habis. So, ada antara kita yang akan bercuti panjang. Ada yang sehingga bulan 9. Ada juga sehingga bulan 5. Ada juga sehingga bulan 3. Ringkasnya, semuanya akan bercuti dan berehat dari kehidupan di kampus ini walaupun berbeza durasi. Tatkala, kita berseronok bercuti, namun hakikat yang perlu disedari oleh kita sendiri ialah seringkali akan ada penurunan iman dan amal kita. Cuti yang seharusnya menjadi medan untuk menambah ilmu dan kefahaman dengan memperbanyakkan bacaan buku dan majlis ilmu, tidak digunakan sebaiknya. Sebaliknya, apa yang terjadi ialah diri kita semakin hanyut dek kerana tiada lagi suasana iman yang mewarnai kehidupan kita seperti di kampus. Secara ringkasnya, inilah jawapan ku pada orang yang mengatakan 'tiada teman tiada kekuatan'.

Memang lumrah kehidupan,

kadangkala bak sebuah kapal di tengah lautan,

tetap perlu gerak ke hadapan,

sungguhpun disambar ombak cabaran,

walaupun bergerak secara bersendirian,

perlu menuju ke tanah tujuan,

hatta dibekali penuh muatan,

tetap terasa sepi kesunyian,

inilah penggoncang keimanan,

tiada teman tiada kekuatan,

amalan tinggal kenangan,

dosa tidak sebagai sempadan,

sebaliknya menjadi kebiasaan,

berulangnya alasan,

tiada teman tiada kekuatan,

tetapi bagi insan pilihan,

keseorangan itu masa keemasan,

bagi meraih niat keikhlasan,

masa cinta-Nya dapat dibuktikan,

peluang merebut perhatian Tuhan,

keseorangan hanyalah ujian,

sebagai satu persimpangan kehidupan.

" Terdapat 7 golongan yang akan mendapat lindungan 'arashNya pada hari yang tiada lindungan melainkan lindungan daripadaNya....dan seseorang yang mengingati Allah ketika bersendirian sehinggakan mengalir air matanya kerana Allah SWT" ( Riwayat Muslim)

Isnin, 7 Februari 2011

Mengapa Ikhwan Dapat Bertahan?


Tokoh-tokoh Ikhwan yang memimpin gerakan yang didirikan oleh Hasan Al-Banna, di tahun 1928 itu, tak banyak yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Diantara para pemimpin yang menjadi mursyid ‘aam Ikhwan itu, sebagian besar mereka berlatar belakang pendidikan umum.

Mereka rata-rata dengan latar belakang pendidikan yang mereka miliki itu, tak menjadi penghalang mereka memimpin gerakan Ikhwan, yang sekarang telah memiliki cabang di hampir 80 negara di seluruh dunia.

Diantara pemimpin yang pernah menjadi Mursyid ‘Aam Ikhwan itu, Hasan al-Banna, Hasan Hudaibi, Umar Tilmisani, Hamid Abu Nashr, Mustafa Masyhur, Ma’mun Hudaibi, Mahdi Aqib, dan sekarang Mohamad Badie’. Itulah tokoh-tokoh Ikhwan yang membimbing dan mengarahkan Jamaah Ikhwan, dan diantara delapan Mursyid, yang memiliki latar belakang pendidikan agama (ulumul syar’i), hanya dua orang, yaitu Hasan al-Banna dan Hamid Abu Nashr.

Sedangkan, Hasan Hudaibi seorang ahli hukum dan pengacara, Umar Tilmisani seorang insinyur, Mustafa Masyhur seorang insinyur, Ma’mun Hudaibi seorang ahli hukum, Mahdi Akif seorang insinyur dan Mohamad Badie’ seorang dokter hewan. Mereka para tokoh yang membimbing dan mengarahkan gerakan Ikhwan sampai hari ini. Sekalipun, mereka berlatar belakang dari sekolah umum, seperti halnya Sayyid Qutb, yang awalnya seorang sastrawan telah menuliskan tafsir yang monumental Fi Dzilalil Qur'an.

Tetapi, Ikhwan sebuah gerakan yang memiliki tradisi keilmuan yang terkemuka, diantara gerakan-gerakan Islam, yang ada. Karena banyak para ilmuwan yang lahir dari Ikhwan.
Seperti Sayyid Sabiq, yang menulis tentang fiqh sunnah, Ramadhan al-Buthi, yang mengarang tentang shiroh Nabi, Syaikh Qardawi, yang mengarang buku tentang fiqh zakat, Mohamad al-Gazali, Abdul Qadir Audah, Hasan Turabi, Said Hawa, Sayyid Qutb, yang mengarang dan menulis tafsir Fi Zilalil Qur’an dan Ma’alami Fit thoriq (Petunjuk Jalan), dan menyelesaikannya waktu dipenjara. Termasuk ahli tasawuf, yang menjadi guru dari Hasan al-Banna dan Syaikh Qardawi, yaitu Syakh Al Bahi Al Khuli.

Jamaah Ikhwan kaya dengan para ilmuwan di berbagai bidang. Tradisi keilmuan menjadi sesuatu hal yang sangat penting. Inilah yang menyebabkan Ikhwan dapat bertahan dan tak pernah berakhir eksistensinya di dunia Arab. Karena gerakan ini dibimbing para pemimpin yang memiliki latar belakang keilmuan, dan orang –orang tetap sabar dan istiqomah di tengah-tengah kehidupan yang penuh kontradiksi, khususnya kekuasaan di dunia Arab.

 Awal gerakan Ikhwan ini sangat besar kontribusi dari para ulama, dan mereka mendidik, dan mencetak kader yang menjadi generasi penerus mereka. Seperti Syaikh Al Bahi Al Khuli yang menjadi Ketua Lajnah Dakwah dalam Ikhwan mencetak kader-kader mereka diantaranya Ahmad Assal, Muhammad Shaftawi, Muhammad Damirdasy Murad, Abdul Azim Daib, Abdul Wahab Bintanuni, Muhammad Abdul Fatah Hessyah, dan sejumlah mahasiswa dari Al-Azhar. Syaikh Qardawi, dan Hasan al-Banna pernah berguru dengan Syaikh Al Khuli.

Belakangan ini lebih banyak lagi para ilmuwan dari berbagai kalangan yang muncul dari Ikhwan, yang memang dipersiapkan. Perguruan Tinggi di Mesir dan dunia Arab menjadi tempat perektutan dan sekaligus, tempat mendidik dan menciptakan kader di berbagai lapisan.

Mereka sebenarnya jauh l ebih baik kondisinya, sekalipun menghadapi tantangan dengan kekuasaan yang otoriter sekalipun. Karena itu, Jamaah Ikhwan tetap berkembang dan bertahan menghadapi kehidupan politik yang sangat tidak ramah.

Kampus-kampus di Mesir, hampir semuanya dikuasai oleh kader-kader Ikhwan. Seperti Universitas Cairo dan Al-Azhar menjadi tempat Ikhwan merekrut dan mendidik kader-kader baru, yang sangat potensial, dan kemudian sesudah mereka menyelesaikan kuliahnya mendirikan organisasi profesi sebagai wadah untuk melakukan kegiatan mereka.

Kehidupan yang sangat ketat dan tertutup di Mesir, tak menyebabkan mereka kehilangan peluang mengembangkan dan meningkatkan kemampuan dan kualitas anggota-anggota mereka secara utuh. Itulah karakter Ikhwan sebagai jamaah dakwah, yang terus mampu bertahan dengan berbagai kondisi yang ada di Mesir.

Tradisi keagamaan yang dibangun secara lekat oleh para pemimpi Ikhwan itu, menyebabkan para anggota Ikhwan menjadi sangat kuat, tak dapat dihancurkan dengan mudah oleh rezim-rezim otoriter di Mesir.

Seperti digambarkan oleh Mohamd al-Gazali, ketika berada di penjara, dan mereka tetap sabar. “Bagaimana kami mengisi waktu di penjara? Hari-hari kami dimulai sejak beberapa jam sebelum fajar. Para ikhwan telah bangun dan bersiap untuk shalat fajar dengan melakukan qiyamul lail”, ujarnya. “Ketika kumandang azan Shubuh, kami bergegas melaksanakan shalat, dan sesudah itu, kami membaca do’a khunut nazilah”, tambah al-Gazali.

Usai shalat Shubh , bagaimana Mohamad Al-Gazali menggambarkan, suasana di dalam penjara, berlangsung wirid ma’syurat, dan dibaca bersama-sama. Sungguh suasana yang sangat luar biasa nikmat, khususnya di dalam kehidupan penjara. Mereka yang berada di penjara itu, lalu mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Syaikh Mohamad Al-Gazali tentang shirah Nabawiyah. Itulah yang menghidupkan ruh dan jasad para ikhwan yang dipenjara oleh para penguasa Mesir, dan tetap bersabar atas keadaan yang mereka alami.

Bagi para pemimpin Ikhwan yang sudah mengalami berbagai pengalaman dan kesulitan dalam perjuangan di Mesir, tak menjadi masalah bagi mereka. Di dalam suasana yang sulit tradisi keilmuan tetap mereka jalankan dengan baik.

Di penjara Mohamad Al-Gazali membacakan kitab Madarijus Salikin yang merupakan karya agung dari Imam Ibnul Qayyim, Syarh Manazil oleh Syaikh Ahmad Abdul Hamid, Syaikh Sayyid Sabiq mengisi tentang fiqh sunnah, dan Syaikh Abdul Badi Saqar, mengajarkan, “Bagaimana Kita Menyeru Manusia?”.

Inilah yang membuat Ikhwan mampu bertahan menghadapi bencana demi bencana yang ditimpakan oleh para penguasa Mesir. Mereka tetap sabar dan terus meningkatkan keilmuan mereka. Sayydi Qutb mengarang berbagai kitab, dan bahkan menyelesaikan karya monumentalnya Fi Dzilali Qur’an, saat berada di penjara militer Liman Thuroh. 

Wallahu’alam.